![]() |
| Ozzy Gea, S.Pd |
Banyak pendapat yang mengatakan
bahwa guru adalah faktor utama bagi mutu pendidikan; bahwa guru merupakan
penentu utama mutu pendidikan; tinggi rendahnya mutu pendidikan tergantung pada
guru; maju mundurnya pendidikan tergantung pada guru; dan mau ke mana
pendidikan dibawa adalah guru yang menentukan.
Berangkat dari pendapat seperti
ini kemudian bermunculanlah upaya-upaya peningkatan mutu guru secara
besar-besaran. Pelatihan-pelatihan guru, workshop guru, penataran guru, hingga
sertfifikasi guru di lakukan di mana-mana secara besar-besaran. Namun, adakah
mutu pendidikan meningkat setelah itu? Ternyata, ada sinyalemen yang mengatakan
bahwa upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu guru serupa
itu tidak berhasil. Mutu pendidikan tidak meningkat setelah guru-guru dilatih.
Guru yang bersertifikat juga tidak menunjukkan hasil pendidikan yang lebih
baik
Dari sini bisa disimpulkan bahwa
mutu pendidikan itu ternyata tidak tergantung pada mutu guru, atau sekurangnya
tidak tergantung sepenuhnya pada mutu guru. Dengan kata lain, guru bukanlah
satu-satunya faktor penentu mutu pendidikan. Guru yang bermutu setinggi apapun
tidak akan mampu menghasilkan pendidikan yang bermutu jika tidak ditunjang oleh
faktor-faktor lain, seperti input (mutu murid itu sendiri), sarana-prasarana
pendidikan yang tersedia (gedung, laboratorium, perpustakaan), media
pendidikan, kurikulum yang tepat, serta lingkungan pendidikan yang kondusif,
yang nyaman untuk menunjang pendidikan.
Guru lulusan perguruan tinggi
terbaik dengan IP terbaik sekalipun tidak akan mampu menghasilkan anak didik
yang bermutu tinggi jika si anak yang bersangkutan itu sendiri tidak bermutu,
alias bermutu rendah. Sebaliknya, guru lulusan perguruan tinggi gurem dengan IP
yang pas-pasan bisa menghasilkan lulusan terbaik jika diberi murid terbaik.
Contohnya ada di mana-mana. Kita sering kali mendengar seorang anak dari
sekolah terpencil, yang bukan sekolah unggulan, yang dengan demikian gurunya
juga bukan guru unggulan, tetapi bisa mencapai hasil ujian terbaik, bahkan
lebih baik dari lulusan sekolah favorit.
Demikian pula, sekolah unggulan,
dengan guru yang juga unggulan, tidak akan bisa berbuat banyak jika tidak
diberi murid yang juga unggulan. Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada sekolah
unggulan, sekolah favorit, sekolah bertaraf internasional, yang ada adalah
murid unggulan, murid favorit, dan murid bertaraf internasional. Bukan sekolah
yang menentukan mutu, tapi murid. Meski guru-guru di sekolah tersebut bisa
meningkatkan mutu anak didiknya, namun peningkatannya tidaklah signifikan,
tidak sebanding dengan mutu sekolah itu sendiri.
Di sisi lain, sarana-prasarana yang penunjang kegiatan belajar mengjar juga ikut menentukan mutu pendidikan. Bayangkan, Anda mengajar di sebuah sekolah yang sarana-prasarananya serba minim. Murid datang ke sekolah hanya membawa buku catatan, tidak ada buku-buku teks, tidak ada buku-buku penunjang, tidak ada kamus, tidak ada alat bantu hitung menghitung, tidak ada media. Jangan harap Anda akan menghasilkan lulusan yang bermutu, yang sebanding dengan lulusan sekolah yang mempunyai sarana-prasarana yang lengkap, apalagi dengan murid-murid sekolah unggulan yang menenteng laptop ke mana-mana.
Di samping itu, tentu saja
pendidikan tidak akan bermutu tanpa didukung oleh kurikulum yang tepat, yang
sesuai dengan situasi dan kondisi lokal di wilayah sekolah tersebut. Selama ini
kurikulum yang kita terapkan belum tentu bisa menjawab urgensi peningkatan mutu
pendidikan yang kita idam-idamkan. Buktinya, sekolah-sekolah di daerah selama
ini mengalami kesulitan dalam menerjemahkan kurikulum yang diciptakan pusat ke
dalam satuan-satuan pendidikan dan latihan yang aplicable dalam kegiatan
belajar mengajar sehari-hari. Kurikulum bentukan pusat—yang harus diikuti oleh
seluruh daerah di Indonesia—sering kali tidak praktis dan sulit diterapkan di
daerah karena berbagai faktor, seperti sarana-prasarana, kesiapan murid, dan
kesiapan guru itu sendiri. Akibatnya, guru-guru di daerah sering kali menerapkan
kurikulum ciptaan pusat tersebut dengan interpretasi mereka sendiri, yang
disesuaikan dengan situasi dan kondisi murid yang mereka pahami. Keadaan
seperti ini tidak bisa disalahkan mengingatkan sebagai guru merekalah yang
paling mengerti keadaan murid mereka sendiri.
Dan yang tidak kalah penting,
lingkungan juga merupakan salah satu faktor dalam menentukan mutu pendidikan.
Sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan umumnya mempunyai mutu yang
lebih tinggi karena lingkungan kota yang kondusif bagi dunia pendidikan. Adanya
kursus-kursus dan lembaga penyelenggara pendidikan ekstra tentu sangat
menunjang peningkatan mutu. Jumlah unit sekolah yang lebih banyak tentu juga
menimbulkan suasana persaingan yang lebih ketat hingga membuat siswa lebih
terpacu untuk bersaing; lebih termotivasi. Di samping itu, siswa di kota juga
lebih banyak mempunyai akses terhadap media; Internet, toko buku, surat kabar,
dsb.
Sedangkan di wilayah pelosok
keadaannya serba terbalik; tidak ada lembaga penunjang pendidikan, jumlah unit
sekolah sangat sedikit, tidak ada toko buku, surat kabar, Internet (kalaupun
ada Internet tentu aksesnya tidak seluas di kota). Dan waktu luang siswa di
pelosok kebanyakan digunakan untuk membantu orang tua mereka bekerja di ladang.
Bandingkan dengan siswa kota yang kebanyakan mengisi waktu luang mereka dengan
bermain atau mengikuti les.
Walhasil, mutu pendidikan tidak
bisa begitu saja dibebankan pada guru. Mutu pendidikan yang rendah bukan karena
gurunya bermutu rendah. Untuk meningkatkan mutu pendidikan tidak bisa hanya
dengan meningkatkan mutu guru. Mutu pendidikan sebenarnya terletak pada peserta
didik itu sendiri. Setekun apa seorang siswa berusaha, sekeras apa dia belajar,
sejauh mana dia berusaha mendisiplinkan diri sendiri, setinggi itulah mutu
pendidikan yang akan dia raih. Contohnya sudah cukup banyak. Kita sudah cukup
sering mendengar dan membaca tentang kisah sukses seseorang dalam pendidikan
meskipun dia berasal dari desa, dari sebuah tempat di mana pendidikan tidak
bermutu, bahkan berlangsung dalam suasana serba kekurangan.
Di sisi lain, tuntutan kurikulum
saat ini yang bersifat students-centered, di mana siswa dituntut lebih aktif
dalam kegiatan pembelajaran, di mana guru hanya bertugas sebagai motivator dan
fasilitator, cukup menunjukkan bahwa guru bukanlah penentu mutu pendidikan.
Mutu pendidikan itu ditentukan oleh siswa itu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar